AGRIDEBAT DAN WEBINAR PERTANIAN

“Ketersediaan Pangan Di Masa Pandemi Covid-19”



            Agridebat dan Webinar Pertanian adalah rangkaian kegiatan yang diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa Fakultas, Fakultas Pertanian dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana (SMF FPB UKSW). Pada Acara Agridebat dan Webinar Pertanian ini menyongsong tema yang sangat relevan dengan keadaan Indonesia saat ini yaitu “Ketersediaan Pangan Di Masa Pandemi Covid-19”. Kegiatan Agridebat ini dilaksanakan selama 2 hari yaitu pada tanggal 21 dan 28 Mei 2021, Webinar Pertanian juga berlangsung selama 2 hari yaitu pada tanggal 22 dan 29 Mei 2021. Pada kegiatan Agridebat diikuti oleh 15 peserta sedangkan kegiatan Webinar Pertanian diikuti oleh 126 peserta.

            Pada dasarnya kegiatan Agridebat ini sama seperti kegiatan debat pada umunya yaitu kegiatan saling beradu argumentasi antarpribadi maupun antarkelompok manusia untuk menentukan baik tidaknya suatu usulan tertentu yang didukung suatu pihak dan disangkal oleh pihak penyangkal. Biasanya pada suatu debat terdapat dua tim yaitu tim pro dan tim kontra. Pada setiap segmennya akan ada dua tim yang saling beradu argument tentang topik yang diangkat. Kemudian diakhir segmen akan dikomentari dan dinilai oleh beberapa dosen sehingga nantinya akan dilihat mana kelompok yang cukup baik dan matang dalam menyampaikan argumennya.

 

Pada Kegiatan Agridebat dibagi menjadi 4 segmen, yaitu segmen pertama dengan tema “Menjaga Kestabilan Harga Produk Pangan di Masa Pandemi”. Pada segmen pertama ini memperdebatkan tentang kestabilan harga produk pangan yang pasa masa pandemi ini kurang stabil, ada beberapa produk pertanian yang mengalami peningkatan harga namun juga banyak yang mengalami peurunan harga karena turunnya minat konsumen. Pada segmen kedua dengan tema “Gerakan Ketersediaan Pangan di masa Pandemi Covid-19” dimana pada segmen ini membahas tentang upaya apa saja yang mampu dilakukan untuk memenuhi ketersediaan pangan di Indonesia. Pada dasarnya terdapat empat cara bertindak dalam upaya mencapai ketahanan pangan. Pertama yaitu peningkatan kapasitas produksi. Salah satu contohnya yaitu Kementerian Pertanian yang mengajak pelaku pertanian untuk melaksanakan percepatan tanam padi pada musim tanam tertentu.  Kedua, diversifikasi pangan lokal. Kementerian Pertanian akan mengembangkan diversifikasi pangan lokal berbasis kearifan lokal yang berfokus pada satu komoditas utama. Ketiga, penguatan cadangan dan sistem logistik pangan dengan cara penguatan cadangan beras pemerintah provinsi, kemudian penguatan cadangan beras pemerintah kabupaten. Keempat, pengembangan pertanian modern, caranya melalui pengembangan smart farming, pengembangan dan pemanfaatan screen house untuk meningkatkan produksi komoditas hortikultura di luar musim tanam, pengembangan korporasi petani, dan pengembangan food estate untuk peningkatan produksi pangan utama seperti beras dan jangung. segmen tiga dengan tema “Ketersediaan Pangan Berbasis Keluarga Jadi Kunci Dalam Mengatasi Pandemi Covid-19, dan segmen yang terakhir dengan tema “Lumbung Pangan Sebagai Upaya Kesediaan Pangan di masa Pandemi di Kalimantan Tengah. Kegiatan agridebat ini melatih para mahasiswa yang mengikutinya untuk mengutarakan pendapatnya di depan umum dengan diimbangi pemikiran yang kritis serta melatih untuk berbicara di depan umum.

 

            Setelah kegiatan Agridebat selesai maka rangkaian acara ini dilanjutkan dengan kegiatan Webinar Pertanian dengan tema Ketersediaan Pangan di Masa Pandemi Covid-19. Webinar ini dilaksanakan pada Pada Sabtu (22/5) melalui Zoom Meeting, dengan mengudang 2 orang pembicara yang merupakan dosen FPB. Acara webinar ini berjalan dengan lancar dengan dihadiri oleh 118 peserta mahasiswa FPB.

Pemateri pertama membawa topik tentang “Krisis Pangan di Masa Pandemi Covid-19 yang dibawakan oleh Dr. Tinjung Mary Prihtanti, S.P., M.P. Menurut Ibu Tinjung “peran generasi muda dibutuhkan lebih dan lebih lagi di sektor pertanian karena sektor pertanian paling kuat mempengaruhi kehidupan ekonomi global, sumber utama pangan, perubahan alam semesta, keberlangsungan, keberlangsungan bangsa”. Beliau menyampaikan bahwa peran generasi muda adalah sebagai  calon pelaku perubahan (agent of change), agen dari pembangunan (agent of development), agen moderenisasi (agent of modernization). Meningkatkan peran generasi muda bisa dengan cara meningkatkan akses generasi muda terhadap ilmu (knowledge), informasi (information), dan Pendidikan (education) pertanian, serta meningkatkan keterlibatan generasi muda dalam dialog kebijakan pembangunan pertanian. Akan tetapi pertanin di Indonesia sedang dihadapkan dengan dampak Covid-19. Beliau menyampaikan bahwa dari kesimpulan beberapa artikel yang di baca, dampak Covid-19 membuat permasalahna “Lama” pertanain menjadi lebih nyata dan menyebabkan permasalahan baru dikarenakan aktivitas – aktivitas yang dilakukan menjadi terbatas. “ Seperti misalnya Covid-19 menyebabkan masyarakat melakukan pengurangan konsumsi karena kita diminta untuk tidak melakukan banyak mobilitas” Kata ibu Dr. Tinjung Mary Prihtanti, S.P., M.P. Apa yang harus kita lakukan? dirasa kemandirian pangan semakin penting. Kemandirian pangamerupakan upaya untuk menyediakan pangan dengan memanfaatkan sumber daya lokal sehingga tercukupi tanpa harus mendapatkan dari wilayah lain.  Kemudian topik yang kedua tentang “Ketersediaan Pangan Di Masa Pandemi Covid-19” dibawakan oleh Dr. Ir. Yuliawati, M.P. Menurut ibu Yuli ‘ketidakjelasan waktu kapan pandemi akan berakhir berpotensi mengganggu ketersediaan, stabilitas, dan akses pangan’ hal yang paling dikhawatirkan jika kondisi ini terus berlangsung adalah terjadinya krisis pangan, oleh karena itu menjaga ketahanan pangan di masa pandemi Covid-19 saat ini menjadi salah satu program prioritas pemerintah Indonesia. Pandemi Covid-19 memberikan pembelajaran terhadap perlunya reorientasi kebijakan ketahanan pangan ke depan sehingga lebih tahan terhadap berbagai gangguan yang akan  selalu dihadapi.