Pandemi COVID-19 menimbulkan tantangan baru bagi seluruh sektor di Indonesia diantaranya sektor pertanian. Hal  ini diungkapkan dalam webinar bertajuk “Tantangan dan Solusi Pertanian di Era  Covid-19” yang diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa Fakultas (SMF) Fakultas Pertanian dan Bisnis (FPB)  Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Selasa (27/10).

Kegiatan ini dimoderatori oleh mahasiswa FPB Tasya Nathania yang diikuti oleh 80 peserta. Serta mengundang dua pembicara yaitu Dina Banjarnahor, SP. MSc. selaku dosen FPB dan  Riza Alsy Setiawan selaku Koordinator Forum Komunikasi dan Kerjasama Himpunan Mahasiswa Agronomi Indonesia (FKK-HIMAGRI) wilayah III Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Tengah. Kedua pembicara menyampaikan materi mengenai tantangan yang dihadapi di sektor pertanian  selama covid-19 dan  solusinya.

Koordinator Satuan Tugas pada kegiatan ini Erna Daeli mengungkapkan bahwa dengan terselenggaranya kegiatan webinar ini bertujuan untuk menambah wawasan mahasiswa terutama mahasiswa FPB tentang dampak COVID-19 bagi sektor pertanian. “Tujuan kegiatan ini adalah untuk membantu mahasiswa pertanian mengetahui apa saja tantangan di era COVID-19, tidak hanya itu saja mereka juga mengetahui permasalahan serta solusi untuk menangani hal tersebut”, ungkapnya.

Dalam pemaparannya Dina Banjarnahor menyampaikan beberapa point tentang permasalahan, tantangan yang dihadapi serta alternatif solusi di era COVID-19.

“Terdapat beberapa tantangan yang dihadapi yaitu meningkatkan saprotan dalam wilayah sendiri, meningkatkan produksi pangan bergizi dalam wilayah sendiri, menekan jumlah pangan busuk atau  terbuang sia-sia dan distribusi pangan yang merata dan  efisien”, ujarnya.

Lanjutnya “ Adapun alternatif solusinya yaitu dengan penyediaan saprotan, peningkatan komoditas prioritas, mengurangi pangan terbuang, distribusi merata dan efisen”.

Sebagai pemateri terakhir, Riza Alsy Setiawan mengajak para peserta untuk  melihat permasalahan yang terjadi saat ini dimana pendapatan masyarakat menurun, pemasukan kebutuhan pangan menurun, perubahan pola konsumsi keluarga hingga jalur distribusi bahan hasil pertanian terganggu.

“ Tantangan yang dihadapi yaitu pendapatan menurun imbas COVID-19, jalur distribusi atau rantai pasar pertanian terhambat sehingga berimbas pada penurunan harga komoditi tertentu, kelangkaan pangan dan kesehatan masyarakat tani rentan atau terganggu akibat virus COVID-19”, katanya.

Lanjutnya “ Beberapa solusi yaitu diversifikasi pangan, manufaktur, dan mempertahankan ketahanan pangan keluarga”.