Kondisi geografis yang beraneka ragam di Indonesia menjadikan masing-masing daerah mempunyai cara tersendiri dalam mengolah lahan pertanian mereka agar lebih efektif dan efisien. Seperti Suku Batak mengenal istilah “PARHALAANâ€, Suku Dayak di Kalimantan Barat mengenal sistem kalender dengan sebutan “PAPAN KATIKAâ€, masyarakat Bali menggunakan sistem kalender yang didasarkan atas ilmu astronomi yang disebut “warigaâ€, dan di Jawa sendiri terdapat suatu sistem pertanian yang disebut “PRANATA MANGSAâ€.
Saat mendengar istilah “PRANATA MANGSA”, apa yang terlintas dipikiran teman – teman ? Mungkin sebagian dari kita berpendapat bahwa PRANATA MANGSA adalah peninggalan sejarah nenek moyang yang berupa sistem penanggalan kalender dan di gunakan oleh petani sejak ribuan tahun yang lalu yang tidak relevan lagi diterapkan di zaman modern saat ini. Masyarakat zaman dulu berprinsip pada ilmu Titen Niteni atau mengamati setiap tanda – tanda kejadian alam yang berlangsung untuk menentukan mangsa. Petani dapat memahami pranata mangsa berdasarkan kejadian atau situasi alam yang dialami, yang terkait dengan usaha taninya.

Secara umum PRANATA MANGSA terbagi menjadi empat musim (mangsa), yaitu: musim hujan (rendheng), pancaroba akhir musim hujan (mareng), musim kemarau (ketiga), dan musim pancaroba menjelang hujan (labuh). Visi masyarakat dahulu untuk menciptakan negara dengan semboyan “gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja, cukup sandang pangan papan” dapat tercapai. PRANATA MANGSA adalah sistem penanggalan yang menjadikan alam sebagai petunjuk tentang apa yang harus dilakukan oleh petani pada saat ingin pertanaman. Sistem ini melatih kecermatan dan kepekaan indra petani untuk mengamati, merasakan, dan membaca alam. Untuk memahami PRANATA MANGSA indra harus lihai menanggapi berbagai macam perubahan yang terjadi di alam. Kicau burung, desir angin, maupun cahaya matahari dapat menjadi petunjuk bagi petani. Penggunaan sistem penanggalan ini adalah sebuah teknologi yang benar-benar brilian. Pranata mangsa mengenal siklus tahunan dalam bertani. Dalam siklus ini terdapat 12 mangsa atau waktu dengan simbol berbeda-beda. Keduabelas mangsa itu diantaranya kasa (bintang sapi gumarah), karo (tagih), katelu (lumbung) dan sebagainya. Nama tiap mangsa sebenarnya dibuat berbeda-beda berdasarkan karakter alam yang terjadi.
Namun, masih relevankah pranata mangsa digunakan pada era globalisasi ini?
Dalam era globalisasi ini, sistem pranata mangsa mulai ditinggalkan oleh petani. Pemanasan global merubah kodrat alam menjadi menyimpang, kemarau jadi hujan, musim hujan beralih ke kemarau. Pemanasan global memang tidak bisa dipungkiri menjadi faktor utama penyebab pranata mangsa mulai dilupakan atau tidak digunakan lagi. Di era globalisasi ini, masyarakat kita didorong untuk lebih open minded terhadap kondisi atau cuaca yang ada di Indonesia sekarang. Era modern dan era globalisasi saat ini ternyata menuntut para pelaku tani menjadi berwawasan internasional. Tak terkecuali bibit yang ditanam (yang bahkan Indonesia masih dominan impor), pupuk yang digunakan, bahkan cara tanam pun mulai mengadopsi asing. Petani mulai mengesampingkan indegeneous knowledge. Kearifan lokal dari leluhur yang mana didapatkan dari pengalaman nenek moyang mulai ditinggalkan.
Penulis sendiri sudah beberapa kali observasi ke beberapa petani khususnya daerah Salatiga, Jawa Tengah. Menurut para petani di daerah Salatiga, mereka mulai meninggalkan sistem pranata mangsa dikarenakan musim yang berubah ubah tiap tahunnya, yang tidak pasti dan susah untuk ditebak. Akan tetapi masih ada beberapa petani yang masih menggunakan sistem pranata mangsa.
Jadi bagaimana menurut teman – teman pembaca sekalian? Apakah pranata mangsa masih relevan untuk digunakan di era Globalisasi ini?
Penulis : Riky Ardianto
Editor  : DEWATA

Dalam era globalisasi ini, sistem pranata mangsa mulai ditinggalkan oleh petani. Pemanasan global merubah kodrat alam menjadi menyimpang, kemarau jadi hujan, musim hujan beralih ke kemarau. Pemanasan global memang tidak bisa dipungkiri menjadi faktor utama penyebab pranata mangsa mulai dilupakan atau tidak digunakan lagi. Di era globalisasi ini, masyarakat kita didorong untuk lebih open minded terhadap kondisi atau cuaca yang ada di Indonesia sekarang. Era modern dan era globalisasi saat ini ternyata menuntut para pelaku tani menjadi berwawasan internasional. Tak terkecuali bibit yang ditanam (yang bahkan Indonesia masih dominan impor), pupuk yang digunakan, bahkan cara tanam pun mulai mengadopsi asing. Petani mulai mengesampingkan indegeneous knowledge. Kearifan lokal dari leluhur yang mana didapatkan dari pengalaman nenek moyang mulai ditinggalkan.
Penulis sendiri sudah beberapa kali observasi ke beberapa petani khususnya daerah Salatiga, Jawa Tengah. Menurut para petani di daerah Salatiga, mereka mulai meninggalkan sistem pranata mangsa dikarenakan musim yang berubah ubah tiap tahunnya, yang tidak pasti dan susah untuk ditebak. Akan tetapi masih ada beberapa petani yang masih menggunakan sistem pranata mangsa.