Menenangkan Hati dan Pikiran dengan Berkebun di Rumah

Menenangkan Hati dan Pikiran dengan Berkebun di
Rumah

Oleh: Maresti Kartikowati


Pandemi
Covid-19 ini menuntut kita untuk tetap waras dengan segala kebijakan-kebijakan
Pemerintah yang membatasi langkah dan gerak kita. Pemberlakuan Pembatasan
Kegiatan Masyarakat (P
PKM) mewajibkan kita untuk tetap berada di rumah dan melakukan segala
sesuatu dari rumah. Berdiam diri di dalam rumah selama berhari-hari sangatlah membosankan. Hal tersebut yang menjadi alasan
bagi saya untuk memulai kegiatan-kegiatan baru yang belum pernah saya
lakukan di rumah.

Selama
pembatasan kegiatan sosial ini, saya telah melakukan banyak hal yang menjadi
tren di era pandemi. Mulai
dari bersepeda, berkebun, hingga bermain
aplikasi TikTok. Dari ketiga tren di era pandemi yang saya ikuti tersebut, yang
masih bertahan dan dengan tekun saya lakukan hingga saat ini ialah tren
berkebun di rumah. Kegiatan berkebun ini saya mulai pertama kali dengan menanam
bunga krokot yang berwarna-warni. Saya menanam bunga krokot ini karena bunga krokot
mudah ditanam oleh pemula seperti saya.

Untuk menanam
bunga-bunga ini saya menggunakan media tanam berupa tanah yang dicampur dengan
sekam padi dan juga limbah kotoran sapi yang kemudian di bagian atas ditutup dengan batu-batu yang menjadi hiasan
agar terlihat lebih rapi.
Saya juga memanfaatkan wadah bekas cat dan wadah bekas sosis kemasan serta
ember bekas yang sudah tidak terpakai untuk dijadikan sebuah pot. Pembuatan pot
dilakukan dengan cara melubangi bagian bawah wadah atau ember tersebut dengan
paku agar air tidak mengendap yang kemudian menyebabkan akar tanaman menjadi
busuk. Saya menempatkan pot-pot bunga di atas kolam ikan lele bukan semata-mata
karena tidak ada tempat lain melainkan agar mudah dalam 
menyirami tanaman-tanaman tersebut. Perlu diketahui bahwa air kolam
memiliki kandungan yang bagus bagi kesuburan tanah sehingga dapat dimanfaatkan
sebagai pupuk organik cair yang membuat tanaman menjadi tumbuh lebih baik.

Setelah saya belajar mengenai
pertanian selama 1 semester lebih
di Fakultas Pertanian dan
Bisnis UKSW Salatiga, saya jadi paham hubungan yang menguntungkan antara
tanaman yang saya tanam dengan kolam lele merupakan sebuah pertanian
yang disebut pertanian
terpadu dimana menggabungkan pertanian dengan perikanan air tawar. Selain menanam
bunga-bungaan, saya juga menanam berbagai jenis sayuran di samping rumah saya.
Menanam sayuran di rumah sangatlah menguntungkan. Selain
bebas pestisida, menanam
sayuran di rumah juga
menekan pengeluaran harian untuk membeli bumbu atau sayuran itu sendiri.
Keuntungan yang lain yaitu ketika harga cabai membumbung tinggi, kita tidak
perlu risau atau khawatir, sebab kita sudah memiliki tanaman cabai yang dapat
berbuah selama kurang lebih 2 tahun.

Perawatan tanaman
cabai, terong, dan tomat ini gampang-gampang susah dibanding menanam
bunga yang saya tanam. Ketika
saya menanam tanaman
cabai, saya melakukannya dari biji cabai terlebih dahulu dan menanti
hingga biji tersebut berubah menjadi bibit cabai yang kecil. Setelah menunggu
biji cabai tersebut berubah menjadi bibit kecil, saya akan memindahkan bibit
kecil tersebut ke wadah bekas sosis yang saya gunakan sebagai pot tanaman.
Ketika bibit cabai tersebut mulai tumbuh menjadi
lebih besar lagi, saya akan pindah tanaman
cabai tersebut ke tanah atau kebun di samping rumah.
Saya memindahkan tanaman cabai ke kebun agar tanaman cabai dapat memperoleh
unsur hara dan sinar matahari lebih efektif sehingga mempengaruhi pertumbuhan
tanaman cabai yang saya tanam.

Selama berkebun di
rumah, saya merasa menjadi pribadi yang lebih tenang dan juga lebih sabar.
Melihat tanaman yang saya tanam dapat tumbuh dengan baik sungguh menyenangkan
hati. Saya senang ketika melihat air hujan membasahi tanaman yang saya tanam
dan daun-daunnya yang akan meliuk ke sana kemari terkena angin. Keadaan seperti
inilah yang membuat perasaan saya menjadi lebih tenang dan damai. Selain itu,
menanti tanaman yang saya tanam tumbuh menjadi lebih besar juga menjadi
nilai kesabaran tersendiri yang Tuhan ajarkan
kepada saya. Pandemi tidak hanya memaksa kita untuk beristirahat dari segala aktivitas. Justru 
lebih dari itu, pandemi
mengajarkan kita caranya
mencari sisi lain dari diri kita yang selama ini tersembunyi dibalik
rutinitas yang mengikat
erat.

Bagikan:
Facebook
Share
WhatsApp